AGAMA

WAJIBKAH TAAT KEPADA PEMERINTAH

Menjelang Hari Merdeka yang akan disambut pada 31 Ogos 2025 ini, adalah penting bagi rakyat negara ini mengetahui beberapa perkara terutamanya tentang kewajiban ketaatan kepada pemimpin khasnya dari sudut agama. Ini amat penting demi menjaga keharmonian negara. Keharmonian sangat penting untuk mengekalkan kestabilan dan kemajuan negara. Malaysia sebuah negara yang kaya dengan kepelbagaian kaum, agama dan budaya, memerlukan perpaduan dan toleransi bagi memastikan keharmonian terus terpelihara.

Malaysia adalah salah satu negara yang tergabung di ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Sistem pemerintahan Malaysia menganut monarki konstitusional dengan bentuk kerajaan yang memiliki 13 negara bagian. Berdasarkan catatan Peavey Marisha dalam IPS Paket A (2020, hlm. 6), Malaysia punya ibukota bernama Kuala Lumpur.

Negara monarki konstitusional ini baru memperoleh kemerdekaannya pada 31 Ogos 1957. Sementara itu, kepala negaranya disebut Yang Dipertuan Agung.

Lantaran bentuknya menyerupai kerajaan, maka kepala negara tersebut kerap disapa Raja Malaysia. Selain itu, ada juga jabatan eksekutif pemerintahan yang tampuk kepemimpinannya dikepalai Perdana Menteri.

Perdana Menteri Malaysia ke 10 Datuk Seri Anwar Ibrahim

Lantas, bagaimana sistem pemerintahan negara Malaysia dan bentuk negaranya?

Sistem Pemerintahan dan Bentuk Negara Malaysia

Menurut situs Bagian Pemerintahan Kota Banjarmasin, Malaysia adalah warisan jajahan Inggris yang sekarang menjadi negara penganut sistem monarki konstitusional. Tampuk kepala pemerintahan dipimpin Perdana Menteri, sementara kepala negara dijabat seorang Yang Dipertuan Agung.

Di dalamnya, ada sejumlah tiga lembaga negara yang ikut serta membantu jalannya pemerintahan. Lembaga-lembaga itu meliputi Badan Legislatif (Badan Perundangan), Badan Pemerintah (Badan Eksekutif), dan Badan Yudikatif (Badan Kehakiman).

Badan Legislatif atau Perundangan ini mempunyai kewenangan di bidang pengubahan Undang-Undang. Jabatan di lembaga ini meliputi Yang Dipertuan Agung, Dewan Negara, dan Dewan Rakyat.

Sementara itu, Badan Pemerintah diisi oleh lembaga-lembaga yang bertugas menjalankan pemerintahan agar sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Di antaranya ada Jemaah Menteri dan Majlis Raja-Raja.

Terakhir, ada juga Badan Kehakiman yang tugasnya menghakimi segala ketentuan yang berlaku. Ada dua lembaga di dalam badan ini, yaitu Mahkamah Tinggi dan Mahkamah Rendah.

Masih berhubungan dengan sistem pemerintahan Malaysia, bentuk negaranya dibagi atas 13 negara bagian. Di antaranya terdapat Kedah, Johor, Kelantan, Melaka, Pahang, Negeri Sembilan, Perlis, Perka, Selangor, Pulau Pinang, Terengganu, Sarawak, dan Sabah.

Khusus untuk Serawak dan Sabah, letak wilayahnya berada di bagian timur Malaysia yang posisinya tepat di utara Kalimantan. Sementara itu, negara bagian lain berlokasi di Semenanjung Malaya.

Semua negara bagian di atas punya pemimpinnya masing-masing, ada yang dipanggil Sultan, Yang Dipertuan Besar, Raja, hingga Ketua Menteri Eksekutif.

Tentang ketaatan mengikut Islam

Menurut para fuqaha kaum muslimin, al-hakim (penguasa) adalah orang yang (dengannya terjaga) stabilitas sosial di suatu negeri, baik ia mendapatkan kekuasaan dengan cara yang disyariatkan atau tidak, baik kekuasaan hukumnya menyeluruh semua negara kaum muslimin, atau terbatas pada satu negara saja.

Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya taat kepada pemerintah
Nash Al-Qur’an

Allah berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 59,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”

Allah berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 46,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian saling berselisih, karena akan menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Firman Allah dalam surah Ali ’Imran ayat 103,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” ¹

Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

بايعنا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

“Kami berbai’at kepada Rasulullah untuk senantiasa mau mendengar dan taat kepada beliau dalam semua perkara, baik yang kami senangi ataupun yang kami benci, baik dalam keadaan susah atau dalam keadaan senang, dan lebih mendahulukan beliau atas diri-diri kami dan supaya kami menyerahkan setiap perkara itu kepada ahlinya. Beliau kemudian bersabda, ‘Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan bisa engkau jadikan hujjah di hadapan Allah.’”

Beliau juga bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang melihat pada pemimpinnya suatu perkara (yang dia benci), maka hendaknya dia bersabar. Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri daripada jama’ah satu jengkal saja, kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له

“Barang siapa yang melepaskan tangannya bai’atnya (memberontak) hingga tidak taat (kepada pemimpin), dia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berhujjah apa-apa.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ

“Dengar dan taatlah kalian kepada pemimpin kalian, walaupun dia seorang budak Habsy.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

على المرء المسلم السمع والطاعة فيما أحب وكره إلا أن يؤمر بمعصية فإن أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin –ed.) baik dalam perkara yang ia sukai atau dia benci, kecuali dalam kemaksiatan. Apabila dia diperintah untuk maksiat, tidak boleh mendengar dan taat.” ¹

Perkataan para ulama

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Para fuqaha bersepakat atas wajibnya taat kepada imam yang mutaghallib (berkuasa melalui perang, kudeta, atau cara represif lainnya, pent.).

Imam Al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasqy rahimahullah (terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H), berkata, “Hukum menaati ulil Amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zalim, kerana kalau keluar daripada ketaatan kepada mereka, akan menimbulkan kerosakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat gandakan pahala. Kerana Allah ’Azza wa Jalla tidak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerosakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu tergantung amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampun, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.”

Imam Al-Barbahari rahimahullah (wafat tahun 329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu. Namun jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jika aku mempunyai doa yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.”  Dia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali, jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata, “Apabila doa itu hanya aku tujukan untuk diriku sendiri, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku. Namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Kita memohon ampunan kepada Allah Ta’ala untuk seluruh kaum muslimin dan menjadikan kita rakyat yang selalu bertakwa kepada-Nya dan taat kepada pemimpin. Kita juga memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan para pemimpin kaum muslimin senantiasa berada dalam ketakwaan dan diberi kekuatan untuk memimpin negara dengan adil, terutama untuk Perdana Menteri kita.

Related posts

Amalan 10 Malam Terakhir Ramadan

adminwm

Berkabung Kematian Suami (Ihdad): Hukum dan Larangan

adminwm

Tiga Amalan Menjadi Syafaat di Akhirat

admin

Leave a Comment