AGAMA

Selamat Jalan Ke Negeri Abadi, Melepaskan Dalam Duka; Perspektif Islam dan Sains

Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan seperti biasa… hingga satu khabar datang dan segalanya berubah. Nama yang biasa kita panggil, suara yang akrab di telinga, wajah yang sering kita renung kini tinggal kenangan. Menerima detik kematian orang tersayang bukan hanya tentang perpisahan, tetapi tentang ruang kosong yang tiba-tiba tercipta di hati.

Ada anak kehilangan ibunya, ada isteri kematian suami, ada ayah kepergian anak, ada kakak melepaskan adiknya, ada sahabat menangisi ketiadaan teman paling akrab. Begitulah putaran kehidupan yang sudah terikat janji sejak di luth mahfuz. Catatan takdir, antara jodoh, rezeki, ajal dan maut yang sudah tertulis dalam kalam setiap hambaNya.

Dalam Islam, kesedihan tidak pernah dianggap satu dosa, ia adalah sebahagian daripada ujian Sang Pencipta untuk hambaNya yang beriman. Sesuatu yang normal apabila perasaan hiba, sedih, kecewa dan duka itu bersarang dan menjadi bahasa hati manusia.

“Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih…” – Rasulullah SAW.

Apa Perlu Dilakukan Saat Menghadapi Kematian Tersayang?

Allah telah menetapkan bahwa setiap yang bernyawa akan kembali kepada-Nya. Kita tidak kehilangan—kita hanya menitipkan, lalu titipan itu dipanggil pulang.

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”

(QS. Ali ‘Imran: 185)

Sains menyebut duka sebagai respons alami ketika ikatan jiwa terputus. Otak mencari kehadiran yang tak lagi ada, hati belajar menerima kenyataan yang belum siap ia peluk. Maka jangan tergesa-gesa pada diri sendiri. Luka tidak ditakdirkan sembuh dalam satu malam.

Dalam sains psikologi, kesedihan difahami sebagai respons alami terhadap kehilangan. Menangis, merasa hampa, atau sulit berkonsentrasi adalah reaksi normal dari otak ketika kehilangan ikatan emosional yang kuat.

  1. Memaknai Takdir dan Ketetapan Allah – Islam mengajarkan bahwa setiap makhluk memiliki ajal yang telah ditetapkan: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Keyakinan ini membantu seseorang menerima kenyataan bahwa kematian bukan hukuman, melainkan bagian dari ketetapan Ilahi. Dari sudut pandang sains, penerimaan adalah tahap penting dalam proses berduka yang membantu kesehatan mental dan mengurangi stres berkepanjangan.
  2. Bersabar dan Memberi Ruang untuk Memproses – Sabar dalam Islam bukan bererti menekan emosi, melainkan menahan diri daripada keputusasaan dan tetap berharap kepada Allah: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Sains menjelaskan bahwa berduka adalah proses bertahap. Model grief cycle (denial, anger, bargaining, depression, acceptance) menunjukkan bahawa setiap orang memiliki waktu berbeda untuk pulih. Tidak ada standar “cepat” atau “lambat” dalam menghadapi kehilangan.
  3. Doa dan Amal sebagai Bentuk Cinta yang Berlanjut – Dalam Islam, hubungan dengan orang yang telah wafat tidak terputus. Doa dan amal jariyah menjadi bentuk cinta yang terus mengalir: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.” (HR. Muslim). Secara ilmiah, melakukan tindakan bermakna seperti berdoa, bersedekah, atau mengenang dengan cara positif. Ia membantu otak membangun makna baru atas kehilangan, sehingga rasa duka perlahan berubah menjadi rasa syukur dan kenangan yang menenangkan.
  4. Menguatkan Diri dengan Dukungan Sosial – Islam menganjurkan saling menguatkan saat musibah: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muslim). Sains membuktikan bahwa dukungan sosial menurunkan risiko depresi dan gangguan kecemasan setelah kehilangan. Berbagi cerita, mendengarkan nasihat, dan tidak memendam kesedihan sendirian sangat membantu proses penyembuhan emosional.
  5. Harapan Setelah Kehilangan – Kematian bukan pengakhiran segalanya. Dalam Islam, ia adalah pintu menuju kehidupan yang abadi. Keyakinan akan pertemuan kembali di akhirat memberi kekuatan bagi hati yang berduka. Dalam sains, konsep post-traumatic growth menjelaskan bahwa seseorang dapat tumbuh menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih menghargai hidup setelah melalui peristiwa kehilangan yang besar.

Related posts

Rasulullah SAW Sebagai Ahli Politik Dan Pemimpin

admin

Dalil dan Sandaran Doa Awal dan Akhir Tahun

admin

Istidraj – Kamu Sedang Diuji

admin

Leave a Comment