Melancong menurut Islam adalah aktiviti yang dianjurkan asalkan mematuhi syarak dan membawa kepada kebaikan seperti menambah iman, mencari ilmu, mengeratkan silaturahim, dan mengambil pengajaran daripada sejarah. Ianya bukan sekadar rekreasi, tetapi boleh menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat dan tujuan yang betul, asalkan tidak melanggar hukum agama dan tidak terjebak dalam maksiat.
Terdapat beberapa tempat yang sering disebut sebagai diharamkan oleh Nabi Muhammad SAW ia itu Madain Saleh (kini dikenali sebagai Al Ula) di Arab Saudi. Larangan ini bukan kerana kawasan itu semata-mata haram untuk dilawati, tetapi kerana ia adalah bekas kediaman kaum Tsamud yang dimurkai Allah akibat keingkaran dan kezaliman mereka. Jika terpaksa melewatinya, umat Islam digalakkan untuk melakukannya dengan cepat, dalam keadaan takut, dan memohon keampunan.
Madain Saleh (Al Ula)
Sebagai akibat daripada penolakan mereka, Allah mengirimkan azab berupa gempa bumi dahsyat yang mengguncang Al Ula, menghancurkan peradaban Tsamud. Kota dan penduduknya dikutuk untuk selamanya, dan makam-makam yang masih berdiri kokoh hingga kini menjadi saksi bisu daripada kehancuran tersebut. Al Ula, pada waktu itu, menjadi tempat yang diliputi mitos dan ketakutan.
Dikutip daripada buku Muhammad karya Suyanto, kisah kaum Tsamud dan Nabi Saleh AS termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 73.
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Artinya: “(Kami telah mengutus) kepada (kaum) Tsamud saudara mereka, Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kamu tuhan selain Dia. Sungguh, telah datang kepada kamu bukti yang nyata daripada Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah untuk kamu sebagai mukjizat. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan keburukan apapun sehingga kamu ditimpa siksa yang sangat pedih.'”
Legenda ini juga diperkuat dengan salah satu kisah yang disebutkan ketika Nabi Muhammad SAW singgah di Al Ula dan tinggal di sana selama beberapa waktu saat sedang menempuh perjalanan ke Tabuk.
Saat berada di Al Ula Nabi Muhammad SAW disebut tidak ingin meminum air dari kota ini dan ingin segera pergi. Bahkan, baginda sering mempercepat langkah dan tidak menoleh ke kanan atau kiri saat sedang melintasi kota tersebut. Kerana sejarah Al Ula, dan larangan untuk mendekati tempat-tempat yang terkait dengan kebinasaan sebelumnya, Nabi Muhammad memilih untuk menghindari Al-‘Ula.
Al Ula sebagai Destinasi Wisata
Meski memiliki latar belakang yang penuh misteri, Al Ula kini telah menjadi destinasi wisata yang popular. Pemerintah Arab Saudi, dalam upaya memperkenalkan potensi wisata negara mereka, telah mengembangkan Al Ula sebagai bahagian daripada program “Saudi Vision 2030” yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan meningkatkan pariwisata.
● Sejarah: Madain Saleh adalah rumah bagi kaum Tsamud yang ditimpa azab Allah setelah mereka mengingkari ajaran Nabi Saleh AS. Nabi Muhammad SAW semasa perjalanannya melalui kawasan ini, menyuruh umatnya untuk melewatinya dengan cepat dan penuh rasa takut kepada Allah SWT.
● Peringatan: Kawasan ini kini menjadi peringatan kepada umat Islam tentang akibat mengingkari perintah Allah.
● Hukum: Larangan ini lebih kepada mengambil iktibar dan bukanlah larangan mutlak untuk ziarah. Pelbagai pihak termasuk ulama antarabangsa dan kerajaan Arab Saudi sendiri membenarkan ziarah ke tempat ini, tetapi dengan tujuan yang betul dan mengambil pengajaran daripada sejarahnya.
Kawasan lain yang pernah dilalui dan menjadi peringatan
● Kota Sodom: Terletak di sempadan antara Palestin dan Jordan. Kota ini pernah diturunkan azab oleh Allah kerana aktiviti maksiat seperti homoseksual.
Terletak di sempadan Jordan dan Palestin, Laut Mati bukan sekadar tasik biasa. Ia merupakan tasik hypersaline yang paling masin dan paling dalam di dunia, dengan kandungan garam mencecah 33.7% – hampir sembilan kali ganda lebih masin berbanding lautan biasa. Keistimewaannya bertambah dengan kedudukannya sebagai kawasan daratan terendah di muka bumi, iaitu 427 meter di bawah paras laut.
Sejarah menunjukkan bahawa kawasan sekitar Laut Mati telah menjadi tempat penempatan manusia sejak 10,000 tahun dahulu. Tamadun-tamadun purba seperti kaum Canaan dan Nabatean pernah menetap di kawasan ini. Dalam kitab suci, ia dikenali sebagai “Laut Asin” dan dianggap kawasan suci oleh pelbagai kepercayaan. Menurut al-Quran dan kitab suci lain, kawasan ini dipercayai menjadi lokasi Kota Sodom dan Gomorrah yang dimusnahkan oleh Allah akibat kemungkaran penduduknya.
Keajaiban Laut Mati terserlah melalui pembentukan kristal garam yang unik. Gumpalan-gumpalan garam berbentuk “cendawan garam” terbentuk hasil proses penyejatan air yang kaya dengan mineral. Ada yang mencapai saiz diameter sehingga setengah meter, menghasilkan pemandangan yang seolah-olah keluar dari dunia fantasi. Pembentukan ini adalah hasil daripada proses semula jadi yang telah berlangsung berjuta-juta tahun.
Kandungan mineral Laut Mati juga luar biasa, dengan 35 jenis mineral yang berbeza termasuk bromida, magnesium, dan kalium. Udara di kawasan ini juga istimewa kerana kandungan oksigen yang lebih tinggi dan kaya dengan ion negatif, menjadikannya tempat rawatan kesihatan sejak zaman purba. Cleopatra, ratu Mesir yang terkenal, pernah mengarahkan pembinaan kilang kosmetik berhampiran Laut Mati untuk menggunakan garam dan lumpur mineralnya.
Penemuan Gulungan Laut Mati pada tahun 1947 di gua Qumran menambah nilai sejarah kawasan ini. Manuskrip purba ini mengandungi teks-teks keagamaan termasuk salinan tertua kitab suci, memberikan gambaran berharga tentang kehidupan manusia 2,000 tahun yang lalu.
● Kota Pompeii: Terletak di bandar Naples, Itali. Kota ini dibenci oleh Nabi Muhammad kerana penduduknya sering melakukan maksiat dan zina.

Mada’in Saleh dihuni oleh kaum Tsamud iaitu kaum Nabi Saleh AS. -Gambar Wings Amirul
Sejarah dan Kehidupan di Pompeii
- Pendirian: Diperkirakan didirikan sekitar abad ke-6 SM oleh kaum Osci.
- Kehidupan Romawi: Sebelum letusan, Pompeii adalah kota yang berkembang pesat dengan populasi sekitar 10.000 hingga 20.000 penduduk, memiliki bangunan publik yang megah, rumah-rumah mewah, dan pusat-pusat bisnis.
- Kondisi Sosial: Temuan arkeologis menunjukkan adanya perbedaan sosial ekonomi yang jelas antara penduduk, yang terlihat dari jenis makanan dan gaya hidup mereka.
- Budaya dan Seni: Kota ini memiliki banyak bangunan publik, rumah-rumah dengan dekorasi mewah, dan banyak lukisan dinding (fresko) yang memberikan gambaran tentang kehidupan Romawi kuno.

Bencana dan Penemuan Kembali
- Letusan Vesuvius: Pada 24 Agustus 79 M, Gunung Vesuvius meletus dan memuntahkan abu, batu apung, dan gas vulkanik panas ke udara.
- Penghancuran: Abu dan material vulkanik dengan cepat menutupi Pompeii, mengubur kota dan sebagian besar penduduknya di bawah lapisan abu setebal beberapa meter.
- Rediscovery: Pompeii sebahagian besar tidak terganggu hingga penemuan kembali yang tidak disengaja pada akhir abad ke-16.
- Penggalian Arkeologi: Penggalian yang dimulai pada abad ke-18 mengungkap kota yang terawetkan secara luar biasa dan memberikan bukti fisik yang belum pernah ada sebelumnya tentang kehidupan di masa lalu.
Pentingnya Pompeii Saat Ini
- Situs Arkeologi: Pompeii adalah salah satu situs arkeologi Romawi paling penting di dunia, yang memberikan bukti nyata tentang kehidupan sehari-hari, seni, arsitektur, dan agama di masa lalu.
- Jendela ke Masa Lalu: Abu yang melindungi kota memungkinkan para arkeolog untuk membuat cetakan dari tubuh manusia dan objek-objek organik, memberikan gambaran tentang detik-detik terakhir para korban.
- Sumber Informasi: Analisis limbah, graffiti, dan artefak lainnya memberikan wawasan berharga tentang kebiasaan makan, penggunaan bahasa Latin vulgar, dan aspek lain dari kehidupan sosial dan ekonomi Romawi.
- Lokasi Wisata: Saat ini, Pompeii menjadi tujuan wisata yang popular yang menawarkan kesempatan untuk menjelajahi dan merasakan langsung kehidupan kota kuno yang hancur.
Sebagai umat Islam, kita perlu mengambil tahu mengenai kisah perjuangan serta pahit getir para Nabi dalam menyampaikan dakwah kepada umat terdahulu yang penuh dengan cabaran.
Kisah-kisah pengikut para Nabi yang kebanyakannya ingkar dengan suruhan Allah sehingga menerima azab yang dahsyat patut dijadikan iktibar, diinsafi serta dijadikan sebagai pedoman agar dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Malah, kesan daripada azab Allah terhadap kaum terdahulu yang melanggar perintahNya masih boleh dilihat sehingga hari ini.
