AGAMA

Pengertian Syafaat dan Enam Syafaat Rasulullah S.A.W

Syafaat berasal daripada kata asy-sayafa’ (ganda) yang merupakan lawan kata daripada al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.

Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak madharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang yang diberi syafaat atau menolak madharat untuknya.

Syafaat terdiri daripada dua macam:
Pertama, syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam KitabNya, atau yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; kerana Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?” Baginda menjawab, “Orang yang mengatakan, ‘Laa ilaaha illallah’ ikhlas dari dalam hatinya.”

Syafaat mempunyai tiga syarat:
Pertama, Allah meredhai orang yang memberi syafaat.
Kedua, Allah meredhai orang yang diberi syafaat.
Ketiga, Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.

Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لاَتُغْنِى شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm: 26)

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Kemudian firman Allah, “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Lalu firman Allah,

يَوْمَئِذٍ لاَتَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meredhai perkataannya.” (QS. Thaha: 109)

Kemudian firman Allah,

يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diredhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati kerana takut kepadaNya.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Agar syafaat seseorang diterima, maka harus memenuhi ketiga syarat di atas.

Menurut penjelasan para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:

Pertama, syafaat umum. Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hambaNya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syafaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka daripada kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.

Kedua, syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada Hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu baginda berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hambaNya dari adzab yang besar ini.

Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firmanNya,

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa’: 79)

Antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaatnya kepada penghuni syurga agar mereka segera masuk syurga, karena penghuni syurga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara syurga dan neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih daripada dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk surga. Pintu syurga itu bisa terbuka kerana syafaat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahawa tuhan-tuhan mereka dapat memerintahkan syafaat kepada Allah. Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankanNya,

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat daripada orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Mudatstsir: 48)

Demikian itu kerana Allah tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka; kerana tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diredhai Allah. Allah tidak meredhai hamba-hambaNya yang kafir dan Allah tidak senang kepada kerusakan.

Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, “Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah,” (QS. Yunus: 18) adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan yang demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh daripada Allah, kerana orang-orang musyrik meminta syafaat kepada berhala-berhala dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itu kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

ENAM SYAFAAT RASÛLULLÂH

Ada enam jenis syafaat *NABI MUHAMMAD, iaitu :

* SYAFAAT YANG BESAR (ASY-SYAFA’AH AL-KUBRA)*
Disebut besar, kerana hanya Nabi Muhammad  s.a.w lah yang dapat melakukannya. Seluruh Nabi dan Rasul selain diri baginda tidak mampu melakukannya.

Ini terjadi ketika umat manusia menjelang dihisab dalam pengadilan Hari Akhir. Keadaan Padang Mahsyar sangat memberatkan manusia. Tiap orang lantas mendatangi nabi-nabi mereka. Namun, tiap nabi itu menolak hingga sampailah pada Nabi Muhammad s.a.w Kemudian, Rasulullah pun memohonkan syafaat kepada Allah S.W.T bagi mereka.

* SYAFAAT NABI S.A.W UNTUK KAUM BERIMAN YAKNI MEREKA YANG CALON PENGHUNI SYURGA.
Dengan syafaat itu, mereka akan dimudahkan masuk ke dalam JannahNya. Hal ini telah diungkapkan dalam suatu hadis sahih dan panjang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah.

* SYAFAAT RASÛLULLÂH BAGI ORANG-ORANG BERIMAN YANG MELAKUKAN MAKSIAT SAAT HIDUP DI DUNIA.*
Mereka menurut hisab pantas dimasukkan dalam neraka. Namun, Rasulullah kemudian memohonkan syafaat kepada Allah sehingga Zat Yang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosa mereka.

* SYAFAAT RASULULLAH YANG DIPERUNTUKKAN BAGI PENDUDUK NERAKA YANG SEMASA HIDUPNYA MENGAKUI “_LAA ILAAHA ILLA ALLÂÂH_*.”
Mereka itu masuk Neraka lantaran dosa-dosa mereka selama di dunia.

* SYAFAAT NABI BAGI PARA PENGHUNI SYURGA.*
Dengan memohonkan syafaat ini kepada Allah, penduduk itu akan meningkat derajatnya di dalam Syurga. Siapa saja yang dapat menerima keberuntungan ini? Adalah mereka yang hidupnya dilalui secara ikhlas, hanya menyembah dan memohon perlindungan kepada Allah ﷻ*.

Ini sesuai firman Allah dalam *Surah al-An’aam ayat 5* :
*”Peringatkanlah dengannya (Al-Qurān) itu orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya (pada Hari Kiamat), tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain ALLÂH, agar mereka bertakwa.”*

* SYAFAAT RASÛLULLÂH UNTUK ANGGOTA KELUARGANYA YANG MATI DALAM KEADAAN NON-MUSLIM.*
Sebagai contoh, Abu Thalib. Dial ialah bapa saudara kepada Nabi saw yang dengan penuh kasih-sayang terus melindungi dan merawat baginda. Namun, ia meninggal dalam keadaan kafir.

Dengan syafaat Rasulullah, azab yang kelak ditimpakan kepada Abu Thalib akan diringankan azabnya.

*”Penduduk Neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.”*

*_(HR. Ahmad)_*

*والله أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين*

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007.

Related posts

UMUR 40 TAHUN DALAM AL QURAN, RAMAI BELUM TAHU

adminwm

Hukum Mengambil Sisa Lebihan Makanan Yang Ditinggalkan di Restoran

adminwm

Bagaimana Wanita Haid/Nafas Perolehi Lailatul Qadar?

admin

Leave a Comment