GAYA HIDUP

Sakit Lutut

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

[vc_column][vc_column_text]Sakit lutut  tidak mengira berapa usia anda. Ia  boleh terjadi pada kanak-kanak berangkali kerana banyak melompat dan berlari tetapi mereka yang berumurlah yang kerap menghadapi penyakit ini.

Penyebab Sakit Lutut
Terdapat  beberapa hal yang menyebabkan sakit lutut. Antaranya meliputi:
Cedera, misalnya cedera pada tulang rawan dan kerosakan tendon atau ligamen.
Penyakit tertentu, seperti osteoartritis, penyakit asam urat, atau tendonitis.

Perdarahan pada sendi.
Infeksi, misalnya artritis septik.
Gejala dan Komplikasi Sakit Lutut
Tidak semua penderita akan merasakan gejala yang sama saat menderita sakit lutut.
Perbezaan ini terjadi kerana penyebabnya pun berbeza-beza. Beberapa gejala yang dapat menyertai sakit lutut, antaranya adalah:

Pembengkakan.
Lutut yang berasa kaku atau tidak bisa diluruskan.
Bunyi gemeretak pada lutut.
Permukaan kulit di daerah lutut berwarna kemerahan dan hangat jika disentuh.
Sendi lutut tidak stabil atau lemas, atau tidak boleh menahan beban tubuh.


Demam yang berpanjangan dan perubahan bentuk pada lutut.
Jika merasakan gejala-gejala tersebut, anda sebaiknya segera ke doktor untuk menjalani pemeriksaan. Sebagian besar sakit lutut yang terjadi dapat ditangani sendiri di rumah. Sebaliknya, ada juga beberapa keadaan yang menyebabkan penanganan medis (misalnya melalui pembedahan), terutama pada  sakit lutut yang menyebabkan nyeri berkepanjangan, kerosakan pada sendi, atau cacat jika tidak ditangani secara khusus.
Faktor Risiko Sakit Lutut
Persendian lutut termasuk bahagian tubuh yang rentan mengalami kerosakan serta rasa nyeri, mengingat fungsinya untuk menopang berat tubuh. Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sakit lutut adalah:


Berat badan yang berlebihan atau obesitas. Kondisi ini akan memberi beban lebih pada lutut sehingga meningkatkan risiko sakit lutut.
Jenis olahraga tertentu, misalnya sepak bola atau basket.
Pernah mengalami cedera lutut.

Diagnosis Sakit Lutut

Pada tahap awal, doktor akan melakukan pemeriksaan fisik pada pasakit. Misalnya dengan memeriksa pembengkakan pada lutut dan batas maksimal gerakan dari lutut yang sakit.
Pemeriksaan lebih mendalaml kemudian akan dianjurkan mendiagnosis penyebabnya, seperti foto Rontgen, USG, CT scan, atau MRI. Melalui pemeriksaan tersebut dapat dilihat keadaan tulang serta sendi pada lutut pasien.


Pemeriksaan darah dapat disarankan apabila doktor menduga sakit lutut pasakit disebabkan oleh infeksi atau keadaan lain, misalnya penyakit rematik asam urat (gout).


Pengubatan dan Pencegahan Sakit Lutut
Setelah mengetahui penyebab sakit lutut yang diderita pasakit, doktor  memberikan ubatan yang sesuai. Misalnya dengan:
Ubat-ubatan seperti analgesik guna meredakan sakit, atau suntikan kortikosteroid, pelumasa sendi, serta platelet-rich plasma (PRP) guna mengurangi peradangan. PRP lebih efektif pada pasakit berusia muda dan pasakit dengan artritis ringan.
Fisioterapi untuk melatih dan menguatkan otot.
Pembedahan untuk menangani cedera. Contoh pembedahan untuk mengganti tempurung lutut. Pembedahan ini  juga dapat dilakukan dengan teknik artroskopi, dengan luka pembedahan yang minimal.
Di samping penanganan ubatan, ada beberapa cara yang boleh dilakukan di rumah untuk mempercepat pemulihan sekaligus mencegah komplikasi. Langkah-langkah tersebut meliputi:


Banyak istirahat agar lutut terhindar daripada tekanan sehingga cedera dapat pulih lebih cepat.
Membalut lutut dengan ais. Langkah ini bisa mengurangi rasa sakit, sekaligus peradangan.
Meminimalisasi gerakan pada lutut, misalnya dengan menggunakan bebat.

 

Menaruh kaki yang cedera pada posisi lebih tinggi. Contohnya adalah dengan meletakkan kaki di atas bantal. Cara ini membantu mengurangi pembengkakan.

 

Rasa nyeri serta cedera pada lutut dapat dicegah dengan langkah-langkah sederhana, misalnya dengan selalu melakukan pemanasan sebelum berolah raga serta peregangan setelahnya, menggunakan sepatu yang sesuai dengan bentuk kaki serta dapat menyangga kaki dengan baik pada saat olahraga, dan menghindari jenis olahraga atau aktiviti yang berpotensi mengakibatkan cedera. Jika anda ingin meningkatkan intensiti dan frekuensi olahraga, lakukanlah secara bertahap.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button